Jakarta,
3 Juli 2025 - Serangan udara Amerika Serikat dan Israel
terhadap fasilitas nuklir Iran pada akhir Juni 2025 membuka kembali perdebatan
lama: apakah tindakan militer dapat menghentikan ambisi nuklir suatu negara,
atau justru memperkuatnya? Dalam konteks Iran, jawabannya tampaknya lebih
condong ke yang kedua.
Meskipun
infrastruktur nuklir Iran mengalami kerusakan parah, pernyataan Kepala Badan
Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menyiratkan bahwa dampak
serangan bersifat sementara. Iran masih memiliki kemampuan teknis dan sumber
daya manusia untuk kembali memperkaya uranium dalam hitungan bulan. Ini berarti
bahwa walaupun fasilitas hancur, semangat dan kapasitas strategis tetap
bertahan.
Pertanyaannya
sekarang bukan lagi apakah Iran mampu kembali menjalankan program nuklirnya,
tetapi apa dampaknya bagi stabilitas global jika mereka melakukannya?
Iran dan Jalur Menuju Senjata Nuklir
Sejak
beberapa tahun terakhir, Iran memang telah memperkaya uranium hingga 60 persen
hanya selangkah lagi dari kadar 90 persen yang dibutuhkan untuk senjata nuklir.
Sebelum serangan Midnight Hammer diluncurkan, Iran dikabarkan memiliki lebih
dari 400 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan tinggi.
Kerusakan
akibat serangan udara terhadap fasilitas seperti Natanz dan Fordow memang
besar, namun Grossi menegaskan bahwa pengetahuan teknis dan pengalaman tidak
dapat dibom. Fasilitas bawah tanah yang terlindung seperti di Fordow bahkan
dilaporkan hanya mengalami kerusakan parsial. Artinya, Iran hanya perlu waktu
untuk memperbaiki dan memulai kembali.
Jika
Iran akhirnya memutuskan untuk mengembangkan senjata nuklir, itu akan mengubah
keseimbangan strategis di Timur Tengah dan memicu efek domino di wilayah
lain.
Efek Geopolitik Langsung
Kepemilikan
senjata nuklir oleh Iran hampir pasti akan mendorong negara-negara tetangga
untuk meninjau kembali kebijakan pertahanannya. Arab Saudi, Mesir, dan bahkan
Turki dapat merasa terdorong untuk mengembangkan atau membeli teknologi sejenis
demi menjaga posisi strategisnya di kawasan.
Ketegangan
diplomatik juga akan meningkat tajam. Negara-negara yang selama ini menjadi
sekutu Amerika Serikat akan menghadapi dilema baru: antara tetap mendukung
tekanan terhadap Iran atau mengambil sikap lebih moderat demi stabilitas
regional.
Sementara
itu, negara-negara seperti Rusia dan Tiongkok kemungkinan besar akan
memanfaatkan kondisi ini untuk memperkuat pengaruhnya di kawasan. Mereka bisa
saja menawarkan bantuan teknologi sipil sebagai kedok kerja sama strategis
dengan Iran. Hal ini akan memperluas poros kekuatan non-Barat dan mempersulit
upaya Barat dalam meredam proliferasi senjata pemusnah massal.
Ancaman terhadap Non-Proliferasi Global
Dampak
lainnya adalah keretakan serius pada sistem non-proliferasi global yang selama
ini dijaga melalui Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Jika Iran keluar
dari kerangka kerja sama IAEA dan JCPOA, itu akan menjadi preseden berbahaya
bagi negara-negara lain yang selama ini masih patuh terhadap regulasi
internasional.
Lebih
dari sekadar ancaman militer, kepemilikan senjata nuklir oleh Iran akan menjadi
simbol kegagalan diplomasi global. Ini menunjukkan bahwa kekuatan
militer tidak selalu cukup untuk menghentikan ambisi negara, dan bahwa sistem
pengawasan internasional seperti IAEA pun memiliki batas saat akses mereka
ditolak.
Potensi Perang Regional
Kekhawatiran
terbesar bukan hanya soal bom nuklir Iran, tetapi bagaimana persepsi ancaman
tersebut bisa memicu eskalasi konflik secara langsung. Israel telah
berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan Iran memiliki
senjata nuklir. Jika Iran terbukti mempercepat pengayaan pasca-serangan, maka
potensi serangan lanjutan bisa meningkat.
Selain
itu, kelompok proksi Iran seperti Hizbullah di Lebanon atau milisi Houthi di
Yaman juga bisa terlibat dalam konflik terbuka. Serangan balasan kecil sudah
mulai terjadi, dan jalur minyak strategis seperti Selat Hormuz menjadi titik
rawan yang dapat memicu guncangan pasar global.
Tidak
berlebihan jika dikatakan bahwa perkembangan nuklir Iran dapat menjadi pemicu
perang regional yang berdampak global baik dari sisi keamanan, politik,
hingga ekonomi.
Harga Minyak dan Ketidakpastian Ekonomi
Pasar
energi global sangat sensitif terhadap konflik Timur Tengah. Lonjakan harga
minyak yang terjadi usai serangan Midnight Hammer menunjukkan bahwa ketegangan
geopolitik langsung mempengaruhi stabilitas ekonomi dunia.
Jika
Iran memblokir Selat Hormuz sebagai respons atas tekanan Barat, maka lebih dari
20 persen suplai minyak global akan terganggu. Dampaknya bisa lebih luas
dibandingkan konflik-konflik sebelumnya, mengingat kondisi ekonomi global yang
masih rapuh pasca-pandemi dan perang Rusia-Ukraina.
Investor
global pun akan menarik modal dari negara-negara berkembang yang dianggap tidak
aman, memperburuk nilai tukar mata uang dan mendorong inflasi di banyak negara.
Diplomasi: Jalan Satu-Satunya
Rafael
Grossi dan banyak analis sepakat bahwa serangan militer bukan solusi jangka
panjang. Diplomasi tetap satu-satunya jalan untuk menjaga agar program nuklir
Iran tetap damai. Namun tantangannya kini lebih besar dari sebelumnya.
Kepercayaan sudah rusak, akses IAEA dibatasi, dan retorika balas dendam mulai
menggema di Teheran.
Jika
tidak ada inisiatif diplomatik yang kredibel dari negara-negara besar, maka
kemungkinan Iran melanjutkan programnya secara tertutup akan meningkat. Dunia
akan kehilangan visibilitas, dan dari situlah lahir ketidakpastian yang
berbahaya.
Risiko Tidak Lagi Sekadar Teori
Nuklir
Iran bukan lagi isu yang hanya hidup di forum-forum diplomasi. Ia kini
menyentuh langsung pada fondasi stabilitas dunia. Jika tidak dikendalikan
dengan pendekatan multilateral dan diplomasi aktif, maka risiko konflik
berskala besar bukan lagi kemungkinan, melainkan keniscayaan.
Teknologi
nuklir Iran yang belum sepenuhnya hancur, stok uranium yang masih tersisa, dan
tekad politik yang menguat pasca-serangan, semua menjadi faktor yang bisa
membawa dunia pada fase baru ketegangan global.
Pertanyaannya sekarang adalah: apakah dunia akan membiarkan siklus ini berulang, atau berani mengambil langkah serius untuk mencegahnya? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan arah geopolitik dalam satu dekade ke depan.
